• Berbagi Karsa

    berbagi karsa berbagi kata dan rasa lewat pengalaman "dari musik band ke musik teater"

  • Antara Lusa Dan Kemarin

    kira-kira ada apa dengan lusa dan kemarin ? lalu, diantara keduanya ada apa dengan sekarang ?

  • Sajak Sajak Enggan.

    yang ku banggakan dari bapak ku. bukan karena mampunya menyekolahkan ku.

  • Secawan Rindu Randu

    Sepucuk surat terselip diantara cawan yang terbalik berjejer rapi diatas meja makan. Piring-piring serta sendok, garpu dan pisau makan mengkilat bersih menumpuk manis dirak-rak piring.

  • Merah, Kuning dan Jingga

    Subuh itu dingin. Embun bekas semalam bertengger manis direrumputan. Aroma tanah basah sehabis dihujam hujan semalam. Menjadi tanda cerah pagi ini.

Senin, 25 September 2017

Bunga Untuk Ratih

Teringat,  kisah saya yang terinspirasi bersumber dari Ratih dan ikat rambutnya yang berwarna biru.
Pernah kamu bertemu seseorang dimasa kanak-kanakmu ?
.
Anggap saja,  hidup bersumber dari dalam kepalaku. Aku hanya mengira tanpa pembenaran.  Ikat rambut itu miliknya. Sementara itu, baru sekitaran sebelum menginjak kaki dikampus baru aku mengenalnya.  Tidak,  tapi lumayan tahu tentang dia. Kemudian hilang setelah lama berkenalan.
.
Ratih,  perempuan manis berambut panjang.  Sedikit sipit dengan tatapan yang tajam. Jarang sekali ditemui dengan bibir tersenyum. Pemurung?  Tidak,  hanya saja orang menganggapnya begitu.
.
Singosari,  27 maret 2010
Aku sedang menunggu kabar dari seseorang.  Tapi pesan singkat itu datangnya dari kamu.  Aku sih sebetulnya males.  Tapi sepertinya kamu orangnya lucu. Lalu,  sebelum waktu kita habis.  Aku mengajarimu banyak hal tentang bahasa malangan.
.
Mataram,  30 mei 2010
Saya lebih suka dirumah.  Bermain game dan lupa tentang cerita kemarin.  Tapi ada yang menarik dari pembahasan kemarin.  Perihal Ratih dan kenangan masa kecil saya.
.
Pucuk dicinta,  ulampun tiba.  Tetiba nya rezeki tak satupun yang mengelak. Saya hanya bisa mengikuti maunya tante. Ikut kemalang naik pesawat.  Pertama kali dan pengalaman yang buruk.
.
Tak ada yang menarik dari perjalanan mataram -  surabaya.  Karena perjalanan singkat tidak banyak cerita yang didengarkan.  Lalu-lalang dibandara,  dan berisiknya ruang tunggu penerbangan.
.
Tetiba di juanda.  Jemputan kami pun datang tepat waktu.  Perjalanan 2 jam cukup menyita dengan kemacetan  di sidoarjo lumpur lapindo.  Riuh jalanan jadi makanan mulai saat itu. Egois pengguna jalan jadi pelajaran toleransi semasa sekolah.
.
Seminggu di sidoarjo dan surabaya.  Tak begitu mengesankan.  Bosan?  Iya,  tapi tak dimakan begitu saja.  Pengalaman pertama mengenal dunia luar nyaman part 2. Setelah yang pertama waktu jaman kanak-kanak dan ikat rambutnya punya Ratih.
.

Share:

Selasa, 06 Desember 2016

Berbagi Karsa 1 "Dari Musik Band Ke Musik Teater

Berbagi karsa part 1 "Dari band ke musik teater"
Berbagi karsa, berbagi kata dan rasa dari pengalaman.

Dalam berbagi karsa 1 ini, saya akan membagikan sebuah pengalaman dari "Bang Alam" sapaan kesehariannya dilingkungan teater tempat beliau berkecimprung. Pengalamannya dari musik band kepanggung musik teater pertama kali.


Pada awalnya, segala sesuatu memang tidak secara tiba-tiba ada atau secara spontan. Melainkan selalu ada proses dan proses dari sebab menuju akibat "Hukum Alam". Dari sini bang Alam berangkat mulai sejak SMP sudah tertarik dengan Musik Band. Untuk mengenal musik band sendiri bang Alam berangkat dari mendengarkan kawan-kawannya. Kemudian, ketika SMA bang Alam baru mencoba bermain musik. Untuk pertama kali membawakan lagu-lagu bergenre POP dari band peterpan yang berjudul bintang disurga dan melebarkan sayap manggung keberbagai acara-acara. Mulai dari festival musik hingga acara-acara kondangan. Bang Alam bergabung dengan kawan-kawannya dan membentuk sebuah band yang diangkat dari hasrat jiwa para personilnya dalam bermusik yakni Soulvegio. Setelah lulus SMA bang Alam kemudian memperdalam ilmunya di bidang musik. Sehingga pengetahuannya tentang genre musik semakin meningkat hingga genre-genre yang biasa dibawakan dream theater dan band-band internasional lainnya. Kemudian memainkan beberapa genre yang berbeda-bea sebagai variasi bentuk musik yang dibawakan. Pengalaman bermusik sejak SMA hingga saat ini cukup dibilang sangat serius untuk minat bang Alam dalam bermusik. Namun, saat ini keinginan untuk bermusik sedikit menurun dalam bermain disebuah band.

Sejak lulus SMA dan masuk kedunia perguruan tinggi mulailah muncul hasrat untuk memahami bidang seni yang lainnya bahkan aliran-aliran dalam semua bidang seni sekaligus aliran dalam seni musik. Mulai dari teater pengalaman-pengalaman dari semua bidang seni terkumpul bahkan aliran musik bergenre etnik dan sebagainya. Dari sinilah awal mula bang Alam mulai menyeriusi bidang musik untuk panggung pertunjukan teater. Awal-awal saat itu, memang begitu besar kesusahan dan kesulitan yang dihadapi. Terlebih perihal peenyesuaian karena memang musik dipanggung teater lebih mengutamakan fungsinya sebagai jembatan suasana untuk aktor maupun penonton dipanggung teater memasuki suasana yang sudah ditentukan sutradara. Selain itu, sedikit susah karena bentukan musik teater dengan musik band sangat berbeda jauh. Musik band lebih mencari alunan irama yang disebut dengan aransemen sedangkan musik panggung lebih untuk mencari alunan irama yang ditunjukan untuk membawa suasana. Untuk musik panggung dan film pun sebetulnya mirip-mirip. Bagi bang Alam sendiri bermain musik band maupun panggung teater sebetulnya sama-sama menarik dam mempunyai kepuasan tersendiri. Basicnya pun sama untuk musik apa pun. Untuk bentukannya jelas berbeda anara band dan panggung teater.

"Bermain musik untuk teater itu seru. Ketika mengiringi emosinya si aktor. Musik dipanggung teater itu lebih berkesan mendorong suasana, situasi membawa aktor dan para penikmat untuk menikmati pertunjukan agar lebih hidup dan real" kata Bang Alam ketika saya wawancarai dikediaman beliau didaerah singosari.

(Malang/30/12/16)
Share:

Kamis, 01 Desember 2016

Antara Lusa Dan Kemarin

kira-kira ada apa dengan lusa dan kemarin ?
lalu, diantara keduanya ada apa dengan sekarang ?


Kemarin aku makan dengan margarin
lalu esok aku makan dengan karin
dan sekarang aku sedang termengu merindu
dulu tak seperi kini yang sendu

rindu tak selalu sendu
sendu tak melulu merindu
semeringah tawa cetus
yang menjejal terlebih dahulu sebelum meletus

durinya kemarin itu 
dan kembangnya kini itu
sendu yang baru ku cerita
dan cetus merekah tawa

kemarin pandai bermain kata
esok pandai bermain hati
sekarang sibuk mencari makna
sehingga lupa mecermati

kemarin merayu nona
esok merayu janda
sekarang bingung mau kemana
pintu rumah masih terkunci

melihat jam dinding belum berdering
seperti menanti jemuran yang sebentar lagi kering
esok dan lusa tak pernah ada
ketika kini hanya cerita

tidak ada apa-apa yang perlu dikhawatirkan untuk lusa dan kemarin. karena memang, hari ini kau baik-baik saja.
Share:

Selasa, 29 November 2016

Sajak - Sajak Enggan Beranjak

yang ku banggakan dari bapak ku...
bukan karena mampunya menyekolahkan ku...
bukan karena mampunya menafkahi ku...
yang ku banggakan karena darahnya mengalir dinadi ku....

yang dibanggakan dari aku tak ada...
bukan karena kepintaran ku mengada - ada...
bukan karena keberhasilanku yang nyata...
yang dibanggakan dari aku tak perlu ada...

sajak anak durhaka

***

Raden Ajeng Kukuh Wijayanti
Gelagatnya yang selalu dinanti
Diantara rimbun daun bergesekan belati
Diantara silangan jejer jemari
Hentakan suara dada lirih berjanji

Berganti
Menari
Hingga pagi

Menjulang cahaya mentari
Bulan berganti
Udara Bernyanyi

Laut terombang-ambing kian kemari
buluh-buluh perindu menjejali
Kerongkongan tersedak sambil berlari
perempuan tangguh dari pelosok negeri

Gaungnya sebagai resep pengganti
Dari tabib-tabib yang mengobati
Aromanya menggerayangi
Tatapan matanya kosong melampaui

Menikam sunyi
Menyulam sepi
Kukuh jiwa Wijayanti
Perempuan anggun teguh dan meneguhkan jiwa para lelaki

#Dekorasikata #CenayangPatah

***


Share:

Secawan Rindu Randu

Secawan Rindu Randu
                Karya : Ridho Mln

"Badai, dalam gelapnya malam. 
Tersibak oleh cahaya rembulan. 
Bidadari embun memetik jumpa 
pada ranum pertemuan sepersinggah"

Sepucuk surat terselip diantara cawan yang terbalik berjejer rapi diatas meja makan. Piring-piring serta sendok, garpu dan pisau makan mengkilat bersih menumpuk manis dirak-rak piring.

Dari balik tirai putih, yang membalut jendela kaca. Cahaya senja fajar mengintip Randu yang sedang pulas. Berbelit selimut putih ia nampak nyenyak dan berantakan. Ruangan serba putih begitu kacau dari salah satu sudut kamar.

Diatas meja, tertata rapi buku-buku. sepertinya ia seorang penyuka buku. Meskipun tak sering beberapa buku habis dibacanya. Disetiap sisi meja, terdapat juga beberapa potret. Salah satunya, sosok seorang perempuan mengenakan baju terusan berwarna putih polos era 80an. Dengan rambut panjang yang dibiarkan tergurai. Dan disebelahnya, jam waker siap menggaduh.

Suara alarm memenuhi seisi ruangan. Dentingnya memekakan kupingnya.

"Ndu, tolong alarmnya" dari balik selimut yang membelit, dengan bantal menutupi sebagian kepalanya.

Tak ada jawaban, dari sekitarnya. Ia hanya terbaring dan menahan.

"Windu, tolong!!!" Gerayangan suaranya memecah menyatu dengan kegaduhan. Dadanya yang bidang bangkit dari setengah kesadarannya.  Bergerak menghentikan kegaduhan yang bersumber dari alarmnya.

"Ndu, kamu dimana ?" Tak beranjak, suaranya seolah menelusuri disetiap sudut ruangan mencari.

Rumah itu nampak sepi dan terawat. Dengan dominan putih yang mencolok. Tak jarang beberapa orang merasa kagum atas bangunan dan dekorasinya. Yang terletak disebuah perumahan dekat dengan Idjen Boulevard.

Kini, kesadarannya mulai diambang batas. Langkah kakinya kokoh menelusuri setiap petak bangunan itu. Diruang tengah, segelas kopi coklat terparkir manis dimeja dekat sofa. Semilir aroma Windu terhuyung angin sepoi.

Dihirupnya sejenak, tiba-tba diluar nampak mendung, guntur menggelegar. Hujan pun mengguyur.

"Kemana, Ndu ?" Kekosongan membuatnya semakin bertanya-tanya.

Diangkatnya secawan kopi beraroma coklat bersama hangat Randu melangkah. Menapaki beberapa petak bangunan yang tak asing. Tubuhnya berhenti paa ruang yang disukai Windu. Hujan menderas, langit menghitam.

Gerakannya memelan, langkahnya terkatup-katup. Jantungnya berdebar pelan, tangannya menjamah singkat pada sepucuk surat yang terselip diantara cawan.

Matanya membinar, gemetar bibirnya membaca lirih dalam hati. Matanya mengeja, merangkul kata demi kata.

"Windu gak bisa, bang. Windu sayang sama abang. Windu gak mau abang kecewa. Tapi, Windu lebih gak mau lagi bikin abang jadi makin tersesat. Windu terpaksa pergi, untuk bang Randu. Lain kali, kita ketemu lagi dengan keadaan yang berbeda dan lebih baik dari saat ini. Salam hangat serta sayang dari kekasihmu, sekaligus adik kembarmu. Windu Wijiastuti".

The End
Share:

Merah, Kuning dan Jingga..



"Bubuih bulan, angin menari...
Semilir embun turun berjatuhan...
Bubuih bulan, dedaunan melambai..
Semilir hujan turun berdesakan"

Subuh itu dingin. Embun bekas semalam bertengger manis direrumputan. Aroma tanah basah sehabis dihujam hujan semalam. Menjadi tanda cerah pagi ini.

Menyumbul mentari malu-malu dari balik bukit dilembah gunung. Merah menyala tersibak jingga diantara kuning. Dingin sejuk jadi satu, tegas panas jadi sayu.

Kekuatan adalah merah, meski merah tak selalu panas. Dingin yang merah menjadi amarah bagi pagi. Menyikut ngilu bagian pertulangan.

Pagi yang cerah sejuk dan hangat meski dingin dibalik bukit terhimpit cahayanya.

Menjadi keceriaan lambang dari warna kuning yang serta merta senang menyinari berkolaborasi hawa menjadi sejuk karena panas dan dingin.

Jingga menjadi sejuk. Hati tentram, memandang langit penuh mesra. Sungai bening mengalir dari gunung. Tak sabar sore datang menjelang. Kejinggaan merentangkan tangan siap memeluk hati yang temaran.

"Dinda, bersamamu seperti mengantongi bintang. Matahari disiang hari dan bulan dimalam hari. Dinda, selepas pergi dan sekembali pulang. Seperti menjumpai senja dipagi dan sore hari."

"Akang, suara angsa sedikit parau. Suara bangau sedikit bening. Akang, yang pandai merayu. Selalu menentramkan hati eneng"

"Dinda, merahku dan kuningmu. Semoga selalu berpadu menjadi jingga"

"Akang, nyanyian bangau tak pernah letih menemani kita"

Langkah ku beradu dengan aspal. Kulit dengan lapis hem putih berseliweran dengan angin. Lagu lama terkulai kembali diujung kuping. Menemani hingga tiba diperaduan.

Rasa cinta mampu merubah lelah. Menjadi semangat yang membara. Rasa cinta mampu membuat duka. Menjadi suka yang membara. Rasa cinta melahirkan jingga pada merah dan kuning yang saling berpagutan diujung sana.

Bias merah memudar, karena cahaya itu gelombang. Gelombang perasaan yang ditangkap oleh rasa. Dipancarkan dari perilaku karena merasa. Cahaya adalah kita. 
Share:

Senin, 21 November 2016

Review Puisi

Hari ini, selasa dua puluh dua november. Malang, sedikit sejuk dan cerah tentunya dipagi hari. Sedikit berbagi cerita tentang pengalaman saya menilai bebarapa lembar puisi dan naskah drama karya mahasiswa psikologi  yang saya baca-baca dari arsip milik adik sekaligus partner in friend. Untuk menilai sendiri sebetulnya saya jauh dari sosok seorang “penilai” sebab saya hanyalah seorang manusia yang dituntun sebagai seorang penikmat karya seni sastra (tulisan) maupun seni-seni yang lainnya. Saya tidak terlalu mengutip banyak quotes atau kutipan dari berbagai sumber atau tokoh-tokoh seniman yang ada di luar negeri maupun didalam negeri. Selain itu, saya juga tidak berpatokan pada pedoman kesusasteraan atau bahkan dramaturgi sekalipun. Lantas, saya menilai karya sastra dari mana ?. jelas, dari beberapa kriteria yang saya rasa cocok secara global atau general. Salah ? jelas tidak. It’s about style and pashion for enjoy the literacy of art. Kacau mata pelajaran bahasa inggris, khususnya grammar (R.I.P English). 

“yang unik yang asik” yep. Ini bukan tentang mainstream atau bukan. Ini tentang sesuatu yang lain dari yang lain. Sesuatu yang enggak biasa bahkan dari yang tidak biasa sekalipun. I hope, you know what i mean. Faking esol my grammar (R.I.P ENG lagi). 

Ada beberapa kriteria penulisan yang saya ikuti dari berbagai sumber penilaian karya sastra puisi dan naskah. Semisal, INOVASI: tentunya ada hal-hal yang berbau kebaruan, bukan kekinian yang kealay-alayan gitu. KREATIF: pastinya berkaitan tentang daya cipta yang hampir sama dengan Inovasi tapi jelas beda kok. ORIGINALITAS: yah, apalagi yang ini sudah pasti. Tapi sesuatu yang original Pastinya pun akan susah. sebab originalitas berarti seuatu yang asli dari diri seseorang tanpa adanya intervensi dari berbagai bentuk dan hal-hal semisal batin dan fisik. Di lain sisi, original juga berarti sesuatu yang bukan kopi paste entah itu piur atau sebagian. Like that lah pokoknya.

Mungkin tiga itu yang lebih masuk akal menurut saya. Dan tidak ada kemungkinan pun disemua bentuk karya sastra yang bentukannya secara general atau global. Untuk wabilkhususnya ada beberapa hal yang mengerucut juga. Semisal untuk puisi dari segi bentukan kalimat tersirat lewat yang tersurat. Atau yang tersurat dari yang tersirat. Dan sebagainya. Lantas, saya berjalan dengan prinsip “tak ada karya sastra yang baik dan buruk. Yang ada hanyalah karya sastra bagian dari manisfestasi kehidupan si penulis dan si pembaca”.

Oke, langsung saja. Saya tertarik dengan semua puisi-puisi karya mahasiswa psikologi UMM. Dari segi bentuk penyampaiannya dengan menggunakan gaya bahasa dan segala norma-norma pada penulisan karya seni puisi tanpa melupakan estetika serta etikanya.

Oleh Arinda Ika Saputri
inilah sajakku untuk pembelaan
Setitik goresan pena yang sering kau anggap kuno
Satu dua tiga kau ambil paksa
Tanah , laut, sumber makan
Tarian, bahkan kepercayaan

Apa maksudnya ? entahlah. Puisi ini bagus (ya kan sebab gak ada puisi yang gak bagus. Kan bagus itu relatif, cuks. Oh iya). Akan lebih baik masuk saya ketika menggunakan diksi serta gaya bahasa yang tidak biasa. Apa ini biasa ? sangat biasa sekali. Dari bentuknya penggalan ini seperti gagasan yang dipaksakan untuk dituliskan tanpa adanya proses penyisipan tiga hal diatas agar terlihat lain dari yang lain. Oke, lanjut ?

Oleh Najah Hamzah B.
“merdeka itu kami
Tapi, masihkah kami merdeka
Saat noda anak negeri masih berbekas ?
Mempersilahkan mereka masuk kembali
Atau mereka tak kan kembali pulang”

Akan lebih keren, kalau dibikin piggybacking concept. Karena pada dasarnya puisi adalah bentuk dari perasaan si penulis yang disalurkan lewat beberapa kata dalam bait yan gdisebut sajak.  Semua masalah penyampaian. 
Oleh Sri Wulan Dani
“rasa bersalah, matanya dibuka
Dia berkata, tapi tidak bersuara
Cukup hatinya yang tahu bicaranya
Cukup telinganya yang mendengarkannya”

Yep, puisi itu seperti itu. “dia berkata tapi tidak ada suaranya tapi dia berbunyi. Cukup hatinya saja yang tahu. Watever apa kata orang. 
Oleh Azha Hilwa N.
“bila berkata, kami yang kecil tak memiliki daya
Lalu untuk apa Tuhan melahirkan ratusan juta umat ditanah-NYA
Bila berseru, kami yang miskin tak punya senjata
Lalu untuk apa Tuhan menyiapkan samudra kehidupan dipulau-NYA”

Seperti kebanyakan naskah puisi karya mahasiswa psikologi UMM ini sepertinya kurang adanya pelepasan jiwa berfikir dalam imajinasi. Yang masih keliatan menapakan kakinya ditanah. Oke, next.
Oleh Muhammad Akbar Habibi
“ruang ruang dipersempit
Kami tak diberi spasi untuk berkembang
Perkembangan kami diatur
Malpraktek menjalar dimana mana”

Ini mantap pemilihan gaya bahasanya. Tapi sayang, liar dan kaku itu gak asik. Kita boleh suka sama pengarang. Tapi kalau bisa janganlah jadikan, pengarang itu sebagai patokan atau tauladan kita dalam menulis. Yang pantas di tauladankan itu Nabi Muhammad SAW.
Oleh Rizka S.N.R
“apa hanya prajurit tentara yang harus berperang ?
Cukup hatikah kalian relakan mereka untuk terus mengganti keegoisan para orang ?
Saat ini, darah tidak butuh dibayar dengan darah
Tapi dibayar oleh kecerdasan pemuda bangsa”

Hampir sama dari keseluruhan karya mahasiswa psikologi UMM yang saya baca. Permainan kata yang kurang liar dan bebas. Hanya saja, dalam bait puisi ini ada nasionalisme yang tersirat. Dalam dan kelam. Dari segi penulisan saya rasa sedikit kurang mengorek dan mengusik pemikiran pembaca. Bahkan saya pun begitu. Kalo gak terpaksa gak akan saya baca. Kalau gak terpaksa gak akan saya selami. (fakingesol gayanya si saya ini).

Oleh Muh Andi P.
“saat merah tak lagi berani
Saat putih tak lagi suci
Saat merah dan putih tak lagi disakralkan”

Untuk yang satu ini, it’s about time. Karena do’i membawa saat-saat yang merujuk pada waktu. Terkadang, kita perlu mengingatkan seseorang tentang sesuatu lewat beberapa hal yang mudah untuk diterima. Semisal, kamu sudah makan ? kata saya kepada dia. Lalu dia menjawab dengan kata belum. Lantas, apakah kita tidak akan makan bersama. Begitulah like a modus.

Dan spesial, sepenggal kalimat dari saya untuk anda para pembaca atau penikmat puisi. Sebagai penutupan untuk review saya kali ini. Sebenernya banyak banget ini puisi dari teman-teman mahasiswa psikologi UMM. Berhubung saya lagi males-malesnya jadi saya cantumin beberapa puisi yang terpenggal. (piss rek, pisuho no aku rapopo).

Saya ingin bercerita lewat sepenggal sajak. Semoga cukup mewakilkan.
“darah kita tentang perjuangan, meskipun aku ini bukan pejuang dan pahlawan” #dekorasikata

Merangkup dari tema yang ada tentang “nasionalisme” sekaligus merangkum bentukan dari naskah puisi karya temen-temen mahasiswa psikologi UMM.

Selamat berkarya dan jangan bosan untuk menulis apa lagi mengexplorasi.
Share:

Google+ Badge

Diberdayakan oleh Blogger.