Selasa, 16 Agustus 2016

Senjana

Senjana
Ku tiriskan rindu setengah matang...
Ku tanggalkan mentari yang kemarin lusa ku curi...
Senjamu semakin merenta..
Mentarimu dan mentariku menari merona disepenggal sore...
.
Lalu kutinggalkan kalian bersama lambai...
"Rinduku mahal, harganya tak lebh murah dari mentari dan gulirnya" teriakan mu menghentikan langkah ku.
.
.
Dari bibir pantai..
Dengan gelisah resah, posture yang tak lagi santai...
Aku berhamburan memelukimu...
Tak ada kata yang terkuak dari bekas senyumku...
.
.
Yang ada hanya histori kisah lama..
Bekas lipstik mu yang bermerk martatilar..
Menempel kokoh dibibirku sebagai pilar..
Yang menopang kuat bangunan itu dihati kita..
.
.
Kini yang tersisa hanya kita..
Kedua mentari tenggelam tanpa mengucap kata pisah...
Yang ada aku mengecup keningmu sebelah..
.
"Rindu tak bisa dibeli. Jika dihutangkan. Rindu tak akan pernah bisa terbayarkan" sambil berbisik, setengah pandangmu aku lenyap dihempas gelap.
.
.
Tanpa helai benang kau menari..
Rebah, bergaun pasir ala eropa...
Hijab yang kau lepaskan itu kini lenyap diterbangkan angin laut..
Semerawut pasir menghambur dirimu hanya berbalut gelap.
.
.
Sedang aku terpana, memandang gelap.
Aroma tubuhmu yang dibawa pasir.
Menyadarkanku tentang sebuah pantai...
Didasar hatimu yang tertaut diantara kedua bola mata ikan.
.
.
Ku tiriskan rindu setengah matang...
Aku berhutang tanpa mampu membayarnya...
Rindu kini tak terbeli..
Tempo hari selalu menjadi hari ini...
.
.
Kedua mentari tak pernah berpisah..
Kecuali kita yang berpencar..
Tanpa memikirkan tentang hutang..
Yang tak pernah bisa terbayar...

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Google+ Badge

Diberdayakan oleh Blogger.