Long Time No See

02.57 Add Comment
Long Time No See
Lama banget, ga nulis bahkan mengunjungi blog ini,
Mungkin banyak yg bilang.. ga banyak sih, ga ada bahkan... tapi gppa, kali aja ada yang nyasar kesini atau ada yg sengaja nyari kesini... dan tersadar postingan terakhir 2017... berapa tahun ya ? 2018, 2019, 2020... 3 tahun rupanya... mungkin kalo ada yang bertanya, pertanyaan yg agak tepat pertanyaan "sibuk ?", "Kemana aja ?", "ngapain ?" 
Oke saya jawab satu-satu buat yang penasaran... 
Pertama, 3 tahun terakhir saya fokus lanjutin kuliah setelah drop out dari kampus lama.. "eh drop out?" Engga sih, sebelum D.O saya sempet ngajuin surat pindah gitu... jadi yaudha aman, ga kuliah dari awal lagi tapi rasanya udah kek ngulang dari awal.. 
"Ga ngerasa ketuaan ?" Alhamdulillah engga.. karena ilmu itu ya relate buat segala usia wkwk... dan saya ga mikir usia tua atau engga, telat atau engga... dan alhamdulillah lagi saya lulus di tahun 2019.
Ilustrasi : Google


"Wah selamet ya" 
Iya makasiih ya.. daaaan, saya sibuk menganggur... engga nganggur sih, ada aja si aktivitasnya... dan banyak cerita yang pengen saya ceritain, tapi yaudahlah next time saya cerita lewat tulisan.. sementara saya cerita lewat podcast... "kamu podcaster ? Kapan-kapan sharing dong tentang podcast" oke, oke tapi saya lebi hsharing ke pengalaman aja kayaknya, tapi sesekali kalau ada kesempatan insya alloh saya share juga deh cara ngebangun podcast... eh bikin podcast deh... buat kamu yg mau dengerin cerita saya.. mampir aja ke sini htpps://anchor.fm/drsky 
Nanti kita sambung lagi yak ngobrolnya... 
"Oke" eh saya ada sepatah prosa nih buat kalian. Siapa tau ada yang mau make buat caption.. hahaha
"Ah, aku tahu... 
Kau menemukanku di tumpukan paragraf...
Yang dijejali rasa bersalah dan ungkapan maaf...
Diantara algoritma kata-kata...
Tidak ada sepatah tanda baca...
Sebagai jangkar untuk kita..."
- rm
Oh iya, jadi prosa ini terinspirasi dari seseorang yang tetiba nge follow saya di instagram.. kemudian nge spam like di beberapa foto. saya rasa, dia nge follow saya dari sebuah aplikasi jejaring sosial gitu... saya bikin banyak akun sosial kemudian nyantumin instagram saya... ini salah satu cara buat nyebarin informasi tentang diri saya... dan semoga kamu lekas menemukan saya.. wkwkwk "kok aku, harusnya kamu dong yang nenemukan aku" hiyaa, insya alloh kita akan saling menemukan untuk segala yang berakhir baik.
Sampai ketemu lagi di kunjungan berikutnya ya... 
Panjang umur kebaikan


Bunga Untuk Ratih

14.27 2 Comments
Bunga Untuk Ratih
Teringat,  kisah saya yang terinspirasi bersumber dari Ratih dan ikat rambutnya yang berwarna biru.
Pernah kamu bertemu seseorang dimasa kanak-kanakmu ?
.
Anggap saja,  hidup bersumber dari dalam kepalaku. Aku hanya mengira tanpa pembenaran.  Ikat rambut itu miliknya. Sementara itu, baru sekitaran sebelum menginjak kaki dikampus baru aku mengenalnya.  Tidak,  tapi lumayan tahu tentang dia. Kemudian hilang setelah lama berkenalan.
.
Ratih,  perempuan manis berambut panjang.  Sedikit sipit dengan tatapan yang tajam. Jarang sekali ditemui dengan bibir tersenyum. Pemurung?  Tidak,  hanya saja orang menganggapnya begitu.
.
Singosari,  27 maret 2010
Aku sedang menunggu kabar dari seseorang.  Tapi pesan singkat itu datangnya dari kamu.  Aku sih sebetulnya males.  Tapi sepertinya kamu orangnya lucu. Lalu,  sebelum waktu kita habis.  Aku mengajarimu banyak hal tentang bahasa malangan.
.
Mataram,  30 mei 2010
Saya lebih suka dirumah.  Bermain game dan lupa tentang cerita kemarin.  Tapi ada yang menarik dari pembahasan kemarin.  Perihal Ratih dan kenangan masa kecil saya.
.
Pucuk dicinta,  ulampun tiba.  Tetiba nya rezeki tak satupun yang mengelak. Saya hanya bisa mengikuti maunya tante. Ikut kemalang naik pesawat.  Pertama kali dan pengalaman yang buruk.
.
Tak ada yang menarik dari perjalanan mataram -  surabaya.  Karena perjalanan singkat tidak banyak cerita yang didengarkan.  Lalu-lalang dibandara,  dan berisiknya ruang tunggu penerbangan.
.
Tetiba di juanda.  Jemputan kami pun datang tepat waktu.  Perjalanan 2 jam cukup menyita dengan kemacetan  di sidoarjo lumpur lapindo.  Riuh jalanan jadi makanan mulai saat itu. Egois pengguna jalan jadi pelajaran toleransi semasa sekolah.
.
Seminggu di sidoarjo dan surabaya.  Tak begitu mengesankan.  Bosan?  Iya,  tapi tak dimakan begitu saja.  Pengalaman pertama mengenal dunia luar nyaman part 2. Setelah yang pertama waktu jaman kanak-kanak dan ikat rambutnya punya Ratih.



ilustrasi : Google

Berbagi Karsa 1 "Dari Musik Band Ke Musik Teater

15.09 Add Comment
Berbagi karsa part 1 "Dari band ke musik teater"
Berbagi karsa, berbagi kata dan rasa dari pengalaman.

Dalam berbagi karsa 1 ini, saya akan membagikan sebuah pengalaman dari "Bang Alam" sapaan kesehariannya dilingkungan teater tempat beliau berkecimprung. Pengalamannya dari musik band kepanggung musik teater pertama kali.


Pada awalnya, segala sesuatu memang tidak secara tiba-tiba ada atau secara spontan. Melainkan selalu ada proses dan proses dari sebab menuju akibat "Hukum Alam". Dari sini bang Alam berangkat mulai sejak SMP sudah tertarik dengan Musik Band. Untuk mengenal musik band sendiri bang Alam berangkat dari mendengarkan kawan-kawannya. Kemudian, ketika SMA bang Alam baru mencoba bermain musik. Untuk pertama kali membawakan lagu-lagu bergenre POP dari band peterpan yang berjudul bintang disurga dan melebarkan sayap manggung keberbagai acara-acara. Mulai dari festival musik hingga acara-acara kondangan. Bang Alam bergabung dengan kawan-kawannya dan membentuk sebuah band yang diangkat dari hasrat jiwa para personilnya dalam bermusik yakni Soulvegio. Setelah lulus SMA bang Alam kemudian memperdalam ilmunya di bidang musik. Sehingga pengetahuannya tentang genre musik semakin meningkat hingga genre-genre yang biasa dibawakan dream theater dan band-band internasional lainnya. Kemudian memainkan beberapa genre yang berbeda-beda sebagai variasi bentuk musik yang dibawakan. Pengalaman bermusik sejak SMA hingga saat ini cukup dibilang sangat serius untuk minat bang Alam dalam bermusik. Namun, saat ini keinginan untuk bermusik sedikit menurun dalam bermain disebuah band.

Sejak lulus SMA dan masuk kedunia perguruan tinggi mulailah muncul hasrat untuk memahami bidang seni yang lainnya bahkan aliran-aliran dalam semua bidang seni sekaligus aliran dalam seni musik. Mulai dari teater pengalaman-pengalaman dari semua bidang seni terkumpul bahkan aliran musik bergenre etnik dan sebagainya. Dari sinilah awal mula bang Alam mulai menyeriusi bidang musik untuk panggung pertunjukan teater. Awal-awal saat itu, memang begitu besar kesusahan dan kesulitan yang dihadapi. Terlebih perihal peenyesuaian karena memang musik dipanggung teater lebih mengutamakan fungsinya sebagai jembatan suasana untuk aktor maupun penonton dipanggung teater memasuki suasana yang sudah ditentukan sutradara. Selain itu, sedikit susah karena bentukan musik teater dengan musik band sangat berbeda jauh. Musik band lebih mencari alunan irama yang disebut dengan aransemen sedangkan musik panggung lebih untuk mencari alunan irama yang ditunjukan untuk membawa suasana. Untuk musik panggung dan film pun sebetulnya mirip-mirip. Bagi bang Alam sendiri bermain musik band maupun panggung teater sebetulnya sama-sama menarik dam mempunyai kepuasan tersendiri. Basicnya pun sama untuk musik apa pun. Untuk bentukannya jelas berbeda anara band dan panggung teater.

"Bermain musik untuk teater itu seru. Ketika mengiringi emosinya si aktor. Musik dipanggung teater itu lebih berkesan mendorong suasana, situasi membawa aktor dan para penikmat untuk menikmati pertunjukan agar lebih hidup dan real" kata Bang Alam ketika saya wawancarai dikediaman beliau didaerah singosari.

(Malang/30/12/16)

Antara Lusa Dan Kemarin

13.35 2 Comments
Antara Lusa Dan Kemarin
kira-kira ada apa dengan lusa dan kemarin ?
lalu, diantara keduanya ada apa dengan sekarang ?
illustrasi via google
Kemarin aku makan dengan margarin
lalu esok aku makan dengan karin
dan sekarang aku sedang termengu merindu
dulu tak seperi kini yang sendu

rindu tak selalu sendu
sendu tak melulu merindu
semeringah tawa cetus
yang menjejal terlebih dahulu sebelum meletus

durinya kemarin itu 
dan kembangnya kini itu
sendu yang baru ku cerita
dan cetus merekah tawa

kemarin pandai bermain kata
esok pandai bermain hati
sekarang sibuk mencari makna
sehingga lupa mecermati

kemarin merayu nona
esok merayu janda
sekarang bingung mau kemana
pintu rumah masih terkunci

melihat jam dinding belum berdering
seperti menanti jemuran yang sebentar lagi kering
esok dan lusa tak pernah ada
ketika kini hanya cerita

tidak ada apa-apa yang perlu dikhawatirkan untuk lusa dan kemarin. karena memang, hari ini kau baik-baik saja.

Secawan Rindu Randu

04.37 Add Comment
Secawan Rindu Randu
Secawan Rindu Randu
                Karya : Ridho Mln
illustrasi via google

"Badai, dalam gelapnya malam. 
Tersibak oleh cahaya rembulan. 
Bidadari embun memetik jumpa 
pada ranum pertemuan sepersinggah"
Sepucuk surat terselip diantara cawan yang terbalik berjejer rapi diatas meja makan. Piring-piring serta sendok, garpu dan pisau makan mengkilat bersih menumpuk manis dirak-rak piring.

Dari balik tirai putih, yang membalut jendela kaca. Cahaya senja fajar mengintip Randu yang sedang pulas. Berbelit selimut putih ia nampak nyenyak dan berantakan. Ruangan serba putih begitu kacau dari salah satu sudut kamar.

Diatas meja, tertata rapi buku-buku. sepertinya ia seorang penyuka buku. Meskipun tak sering beberapa buku habis dibacanya. Disetiap sisi meja, terdapat juga beberapa potret. Salah satunya, sosok seorang perempuan mengenakan baju terusan berwarna putih polos era 80an. Dengan rambut panjang yang dibiarkan tergurai. Dan disebelahnya, jam waker siap menggaduh.

Suara alarm memenuhi seisi ruangan. Dentingnya memekakan kupingnya.

"Ndu, tolong alarmnya" dari balik selimut yang membelit, dengan bantal menutupi sebagian kepalanya.

Tak ada jawaban, dari sekitarnya. Ia hanya terbaring dan menahan.

"Windu, tolong!!!" Gerayangan suaranya memecah menyatu dengan kegaduhan. Dadanya yang bidang bangkit dari setengah kesadarannya.  Bergerak menghentikan kegaduhan yang bersumber dari alarmnya.

"Ndu, kamu dimana ?" Tak beranjak, suaranya seolah menelusuri disetiap sudut ruangan mencari.

Rumah itu nampak sepi dan terawat. Dengan dominan putih yang mencolok. Tak jarang beberapa orang merasa kagum atas bangunan dan dekorasinya. Yang terletak disebuah perumahan dekat dengan Idjen Boulevard.

Kini, kesadarannya mulai diambang batas. Langkah kakinya kokoh menelusuri setiap petak bangunan itu. Diruang tengah, segelas kopi coklat terparkir manis dimeja dekat sofa. Semilir aroma Windu terhuyung angin sepoi.

Dihirupnya sejenak, tiba-tba diluar nampak mendung, guntur menggelegar. Hujan pun mengguyur.

"Kemana, Ndu ?" Kekosongan membuatnya semakin bertanya-tanya.

Diangkatnya secawan kopi beraroma coklat bersama hangat Randu melangkah. Menapaki beberapa petak bangunan yang tak asing. Tubuhnya berhenti paa ruang yang disukai Windu. Hujan menderas, langit menghitam.

Gerakannya memelan, langkahnya terkatup-katup. Jantungnya berdebar pelan, tangannya menjamah singkat pada sepucuk surat yang terselip diantara cawan.

Matanya membinar, gemetar bibirnya membaca lirih dalam hati. Matanya mengeja, merangkul kata demi kata.

"Windu gak bisa, bang. Windu sayang sama abang. Windu gak mau abang kecewa. Tapi, Windu lebih gak mau lagi bikin abang jadi makin tersesat. Windu terpaksa pergi, untuk bang Randu. Lain kali, kita ketemu lagi dengan keadaan yang berbeda dan lebih baik dari saat ini. Salam hangat serta sayang dari kekasihmu, sekaligus adik kembarmu. Windu Wijiastuti".

The End