Sabtu, 12 November 2016

Diskriminasi Dan Kenangan Kita

DISKRIMINASI DAN KENANGAN KITA

Sepintas, pagi tadi ketika di stadiun bola UMM. saya mengamati beberapa orang yang sedang berolahraga pagi. sekaligus menyaksikan adik-adik saya sedang melaksanakan kegiatan mingguan, yakni latihan olah-olah untuk sebuah pementasan drama teater. "nyari apa ?" tanya saya yang sedari tadi sudah menyimak pergerakan salah seorang yang menginstruksi latihan kali ini. "kayu kak" sahutnya lekas. "kayu ? ini kayu" ungkap saya dengan menyodorkan sebatang patahan kayu kecil dari ranting. ia tersenyum dan bergegas mencari agar lekas menemukan kayu yang diinginkannya. sepintas itu terbersit dalam benak saya ketika mengamati patahan kayu dahan itu. lalu, ia kembali menuju kerumunan anak-anak yang ditinggalkannya sejenak tadi untuk mencari sebuah kayu dan lewat depan saya. "maksud saya bambu, kak. hehehe"  kemudian berlalu.

kayu, dahan, ranting dan pohon. meja, kursi terbuat dari kayu. fikiran saya sejenak berhenti pada kayu. ada apa sebetulnya dengan patahan kayu dari dahan ini ? kenapa ia tidak mengambil apa yang dia cari. apakah yang dia dapatkan belum tentu diinginkan ?. lantas sosok seorang perempuan melangkah pelan dihadapan saya. "apa dia yang saya cari ?" ucap saya pelan. saya melirik lagi kayu tadi. kemudian melirik kearah perempuan yang melangkah pelan itu. "apa dia yang tidak saya inginkan ?" saya katakan dalam hati.

saya melihat bambu yang tadi dibawa si penginstruksi latihan. kurang dari 15 menit latihan dengan menggunakan bambu, yang sebetulnya juga spesies dari kayu-kayuan itu. maksud saya kayu beneran. lalu, diletakan dan ditinggalkan tergeletak begitu saja. sejenak, timbul lagi pertanyaan dari dalam otak saya yang sepertinya tak berjalan dengan baik. "apakah, setiap yang ditemukan pasti akan diabaikan ?. atau jangan-jangan, segala yang di cari sebetulnya sudah ditemukan. hanya saja, kesadaran yang membuat saya, dia atau bahkan mereka yang membuat kita menemukan apa yang ingin kita temukan ?. entahlah, semua hanya redaksional yang sebetulnya dapat kita pahami dalam satu kalimat".

"kesadaran kita terbatas, dan diluar keterbatasan adalah alam bawah sadar kita". saya masih merasa kurang puas dengan jawaban yang saya temukan sendiri. lantas, saya merasakan situasi dimana keadaan saya mampu menembus batas kenormalan manusia. setiap orang memiliki sifat bosan, malas dan segala sifat negatif pada manusia. karena manusia itu mahluk yang sempurna. maka, manusia pastinya tidak hanya memiliki satu sifat yakni negatif. melainkan dilengkapi dengan sifat kedua yaitu positif. dan setiap sifat memiliki pemicu untuk membuatnya nampak dalam bentuk tindakan yang lebih realtime.

beberapa saat kemudian dari hening. seseorang menyadarkan saya dari lamunan singkat pagi tadi. "maaf kak, titipannya kelupaan". kata salah seorang yang baru tiba dilapangan. "oh ndak apa-apa, malang suantai kok". balas saya dengan ramah. wajahnya mengingatkan saya tentang kamu, bambu, kayu, dahan, ranting dan cerita kita. tentang kenangan beberapa tahun silam. disetiap kebosanan yang menjelma bimbang ketika saya memilih kamu. menyiapkan sebuah ruang, untuk bercengkrama dengan bebas dalam hati yang selalu merasa kosong ketika sebelum menjadikannya tempat untuk kita. 

entah aku atau kamu. kita pernah menjadi bambu. ditinggalkan sejenak. lalu dibuai lagi beberapa kali. sebelum kita saling melukai dengan sisi yang lebih tajam. hingga saat ini, sudah berapa perasaan yang kita lukai. sebagai kayu, atau sebagai si dia si pencari kayu.

Malang,13 November 2016

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Google+ Badge

Diberdayakan oleh Blogger.