Senin, 21 November 2016

Review Puisi

Hari ini, selasa dua puluh dua november. Malang, sedikit sejuk dan cerah tentunya dipagi hari. Sedikit berbagi cerita tentang pengalaman saya menilai bebarapa lembar puisi dan naskah drama karya mahasiswa psikologi  yang saya baca-baca dari arsip milik adik sekaligus partner in friend. Untuk menilai sendiri sebetulnya saya jauh dari sosok seorang “penilai” sebab saya hanyalah seorang manusia yang dituntun sebagai seorang penikmat karya seni sastra (tulisan) maupun seni-seni yang lainnya. Saya tidak terlalu mengutip banyak quotes atau kutipan dari berbagai sumber atau tokoh-tokoh seniman yang ada di luar negeri maupun didalam negeri. Selain itu, saya juga tidak berpatokan pada pedoman kesusasteraan atau bahkan dramaturgi sekalipun. Lantas, saya menilai karya sastra dari mana ?. jelas, dari beberapa kriteria yang saya rasa cocok secara global atau general. Salah ? jelas tidak. It’s about style and pashion for enjoy the literacy of art. Kacau mata pelajaran bahasa inggris, khususnya grammar (R.I.P English). 

“yang unik yang asik” yep. Ini bukan tentang mainstream atau bukan. Ini tentang sesuatu yang lain dari yang lain. Sesuatu yang enggak biasa bahkan dari yang tidak biasa sekalipun. I hope, you know what i mean. Faking esol my grammar (R.I.P ENG lagi). 

Ada beberapa kriteria penulisan yang saya ikuti dari berbagai sumber penilaian karya sastra puisi dan naskah. Semisal, INOVASI: tentunya ada hal-hal yang berbau kebaruan, bukan kekinian yang kealay-alayan gitu. KREATIF: pastinya berkaitan tentang daya cipta yang hampir sama dengan Inovasi tapi jelas beda kok. ORIGINALITAS: yah, apalagi yang ini sudah pasti. Tapi sesuatu yang original Pastinya pun akan susah. sebab originalitas berarti seuatu yang asli dari diri seseorang tanpa adanya intervensi dari berbagai bentuk dan hal-hal semisal batin dan fisik. Di lain sisi, original juga berarti sesuatu yang bukan kopi paste entah itu piur atau sebagian. Like that lah pokoknya.

Mungkin tiga itu yang lebih masuk akal menurut saya. Dan tidak ada kemungkinan pun disemua bentuk karya sastra yang bentukannya secara general atau global. Untuk wabilkhususnya ada beberapa hal yang mengerucut juga. Semisal untuk puisi dari segi bentukan kalimat tersirat lewat yang tersurat. Atau yang tersurat dari yang tersirat. Dan sebagainya. Lantas, saya berjalan dengan prinsip “tak ada karya sastra yang baik dan buruk. Yang ada hanyalah karya sastra bagian dari manisfestasi kehidupan si penulis dan si pembaca”.

Oke, langsung saja. Saya tertarik dengan semua puisi-puisi karya mahasiswa psikologi UMM. Dari segi bentuk penyampaiannya dengan menggunakan gaya bahasa dan segala norma-norma pada penulisan karya seni puisi tanpa melupakan estetika serta etikanya.

Oleh Arinda Ika Saputri
inilah sajakku untuk pembelaan
Setitik goresan pena yang sering kau anggap kuno
Satu dua tiga kau ambil paksa
Tanah , laut, sumber makan
Tarian, bahkan kepercayaan

Apa maksudnya ? entahlah. Puisi ini bagus (ya kan sebab gak ada puisi yang gak bagus. Kan bagus itu relatif, cuks. Oh iya). Akan lebih baik masuk saya ketika menggunakan diksi serta gaya bahasa yang tidak biasa. Apa ini biasa ? sangat biasa sekali. Dari bentuknya penggalan ini seperti gagasan yang dipaksakan untuk dituliskan tanpa adanya proses penyisipan tiga hal diatas agar terlihat lain dari yang lain. Oke, lanjut ?

Oleh Najah Hamzah B.
“merdeka itu kami
Tapi, masihkah kami merdeka
Saat noda anak negeri masih berbekas ?
Mempersilahkan mereka masuk kembali
Atau mereka tak kan kembali pulang”

Akan lebih keren, kalau dibikin piggybacking concept. Karena pada dasarnya puisi adalah bentuk dari perasaan si penulis yang disalurkan lewat beberapa kata dalam bait yan gdisebut sajak.  Semua masalah penyampaian. 
Oleh Sri Wulan Dani
“rasa bersalah, matanya dibuka
Dia berkata, tapi tidak bersuara
Cukup hatinya yang tahu bicaranya
Cukup telinganya yang mendengarkannya”

Yep, puisi itu seperti itu. “dia berkata tapi tidak ada suaranya tapi dia berbunyi. Cukup hatinya saja yang tahu. Watever apa kata orang. 
Oleh Azha Hilwa N.
“bila berkata, kami yang kecil tak memiliki daya
Lalu untuk apa Tuhan melahirkan ratusan juta umat ditanah-NYA
Bila berseru, kami yang miskin tak punya senjata
Lalu untuk apa Tuhan menyiapkan samudra kehidupan dipulau-NYA”

Seperti kebanyakan naskah puisi karya mahasiswa psikologi UMM ini sepertinya kurang adanya pelepasan jiwa berfikir dalam imajinasi. Yang masih keliatan menapakan kakinya ditanah. Oke, next.
Oleh Muhammad Akbar Habibi
“ruang ruang dipersempit
Kami tak diberi spasi untuk berkembang
Perkembangan kami diatur
Malpraktek menjalar dimana mana”

Ini mantap pemilihan gaya bahasanya. Tapi sayang, liar dan kaku itu gak asik. Kita boleh suka sama pengarang. Tapi kalau bisa janganlah jadikan, pengarang itu sebagai patokan atau tauladan kita dalam menulis. Yang pantas di tauladankan itu Nabi Muhammad SAW.
Oleh Rizka S.N.R
“apa hanya prajurit tentara yang harus berperang ?
Cukup hatikah kalian relakan mereka untuk terus mengganti keegoisan para orang ?
Saat ini, darah tidak butuh dibayar dengan darah
Tapi dibayar oleh kecerdasan pemuda bangsa”

Hampir sama dari keseluruhan karya mahasiswa psikologi UMM yang saya baca. Permainan kata yang kurang liar dan bebas. Hanya saja, dalam bait puisi ini ada nasionalisme yang tersirat. Dalam dan kelam. Dari segi penulisan saya rasa sedikit kurang mengorek dan mengusik pemikiran pembaca. Bahkan saya pun begitu. Kalo gak terpaksa gak akan saya baca. Kalau gak terpaksa gak akan saya selami. (fakingesol gayanya si saya ini).

Oleh Muh Andi P.
“saat merah tak lagi berani
Saat putih tak lagi suci
Saat merah dan putih tak lagi disakralkan”

Untuk yang satu ini, it’s about time. Karena do’i membawa saat-saat yang merujuk pada waktu. Terkadang, kita perlu mengingatkan seseorang tentang sesuatu lewat beberapa hal yang mudah untuk diterima. Semisal, kamu sudah makan ? kata saya kepada dia. Lalu dia menjawab dengan kata belum. Lantas, apakah kita tidak akan makan bersama. Begitulah like a modus.

Dan spesial, sepenggal kalimat dari saya untuk anda para pembaca atau penikmat puisi. Sebagai penutupan untuk review saya kali ini. Sebenernya banyak banget ini puisi dari teman-teman mahasiswa psikologi UMM. Berhubung saya lagi males-malesnya jadi saya cantumin beberapa puisi yang terpenggal. (piss rek, pisuho no aku rapopo).

Saya ingin bercerita lewat sepenggal sajak. Semoga cukup mewakilkan.
“darah kita tentang perjuangan, meskipun aku ini bukan pejuang dan pahlawan” #dekorasikata

Merangkup dari tema yang ada tentang “nasionalisme” sekaligus merangkum bentukan dari naskah puisi karya temen-temen mahasiswa psikologi UMM.

Selamat berkarya dan jangan bosan untuk menulis apa lagi mengexplorasi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Google+ Badge

Diberdayakan oleh Blogger.