Sabtu, 19 November 2016

Kukuh Wijayanti

SINOPSIS

Akhirnya, apa yang kita inginkan tercapai. Meski ada beberapa keinginan yang harus kita pangkas. Melalui beberapa adegan kehidupan yang telah kita lalui dengan berbagai macam kendala. Halangan dan rintangan yang didapati berasal dari jiwa dalam raga sendiri.

Berawal dari pujianmu yang membuatku sedikit lepas kendali. Kepala terasa penuh atas buaian kalimatmu. Hari-hari yang dijejali oleh awalan yang tak kunjung menemui titik akhir. Mulai dari proses berteater hingga proses kreatif dunia perfilman. Kita adalah aktor atas adegan perilaku keseharian. Dan, dari itu ada keharmonisan dalam diri kita. Hingga berujung darah kebangsawanan yang akhirnya menitik beratkan hubungan korelasi antara kita yang ku tanggalkan dialmari besi bersama kenangan masa lampau.

Cinta, sosial, agama dan pengetahuan. Yang awalnya menjadi pembatas antara logika dan perasaan menjadi bentuk satuan karena haras yang meretakan bagian-bagian pondasi keangkuhanku. Yang meluluhkan kekokohan dinding baja dihatimu.

.
.

BAB 1

Hari ini sedikit terik, tak biasanya bagi daerah semi teropis yang selebihnya identik dengan dingin sehabis penghujan. Aroma tanah masih menyatu dengan bau tubuh yang masih hangat.

"Kau masih belum mandi ?". Tanya bahari menatapku dengan penuh kecurigaan.
"Tak salah lagi. Itu memang berasal dari tubuhku.".
"Sudah berapa minggu setelah kau ditolak mentah-mentah jum'at bulan desember lalu ?".
"Oh, seminggu setelahnya".
"Gila, hampir 2 bulan lewat". Teronjak ia tak menduga.
"Kalau sudah kenal, mungkin akan biasa" Cetusku.

Lusa, itu sedetik lagi. Tak begitu terasa hari yang dilewati tanpa kekosongan. "Lohan kemana ?" Sambut pak sutradara. "Mungkin terlambat lagi ?". "Sebaiknya kau gantikan saja" Sekiranya ucapanku menjadi solusi ngena untuk aktor pembantu yang hampir tak pernah hadir sebulan proses latihan. Bahari menampilkan ekspresi lucu bin jenaka tak mengiyakan saran dari aktor kelas kakap.

"Oke, har kau gantikan dia. Setelah ini ikut Sasongko ke dapur proses. Biar dia yang menggodok kamu" ujar sutradara.
"Apes, iya pak sut" dari balik kelugesannya menyetujui kata sutradara. Tatapannya menghunus kearahku.

"Kenapa bukan kau saja yang menggantikannya ?. Sebagai asisten sutradara sekaligus aktor utama, bukannya itu hal yang mudah ?"
"Kau fikir, tuhan menurunkan rahmat serta rezeki kemuka bumi ini untukku makan sendiri ?. Kau fikir hamba Tuhan hanya aku saja ?. Sudahlah, jangan banyak tanya jika hanya menambah nafsumu untuk menjebak" Kalimatku sedikit membuatnya tergelalak.
...
"Ko, gak ikut latihan lagi ?". Tanya dewi terheran memandangku menyungut rokok sambil bersender telanjang dada dipilar gazebo.
"Ini latihan dee. Coba kau lihat." Aku melempar pandanganku mengarah pada bahari yang sedang bermain imajinasi. "Gue ga ngerti maksud lo, Ko" wajah polos gadis itu terlalu lugu untuk berhadapan denganku.
"Jiancok, ayu-ayu kok lemot. Sebagai pelaku seni. Setidaknya hidup kita sudah bisa dikatakan latihan dee. Rokokku, bicaraku, tatapan mataku bahkan hembusan dan helaan nafas kita. Proses berlatih dee" tuturku membuatnya sedikit risih.
"Iyo wes iyo, lek asu wes ngomong gue bisa apa".

"Ini sudah belum ? Aku capek" bengok bahari memecah kecanggungan yang ku buat. "Iya, kalau capek istirahatlah. Jangan broadcast". Timpalku.

Setelah beberapa menit terdiam akibat kecanggungan yang ku buat. Sesekali menatap dalam ke arahku dan bahari. Dewi meletakan segelas kopi dan sebotol mineral disampingku kemudian menghilang.

"Evaluasi aku ko" pinta bahari.
"Imajinasimu kurang penjiwaan. Kalau kau melayang. Ya setidaknya kau visualkan lewat gerak atau vokal.".
"Nanti, orang mengira aku gila".
"Cuma orang gila yang mengira kau gila disini" bantahku. Ia menoleh sekitar dan mendapati masing-masing sibuk dengan jobdes produksi.

Kopi yang dibuat dewi tadi ku sentuh. Hangatnya masih tersimpan. Aroma khas yang begitu nikmat. Dan ada sedikit aroma parfum casablanca yang dikenakan dewi tersangkut dikopi yang ku sruput.

"Ini ada catetan buat kau pelajari dan kita ketemu sore ini sebelum gladi. Aku ada kelas konseling jam satu, nanti kita sambung lagi har." Tukasku mengakhiri sesi mentor kali ini.

BAB 2

Angin berhembus membawa aroma pada hidung yang menciumiku. Menghirup wangi tubuh, mengendus bukan mencumbu.
"Bau badan siapa nih ?!!!". Lelaki gemuk didepanku berdiri membentak.
"Kalau tidak suka ya jangan dicium". Ujarku pelan

"Anjrit. Bau lo ya ?". Katanya sambil membungkuk kearah ku. Posisi kami mirip di adegan film crow zero.

"Ternyata, kelakuan lo lebih busuk dari bau badan lo". Cetusnya mencari perkara.

Aku hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa.

"Emang ya, anak teater dimana-mana selalu belagu, songong macam berandal, gembel dan gak jelas". Hinanya menambah suram suasana kelas.

"Ni bocah siapa sih ? Selama ane disini ga pernah liat ini orang. Ah, kacau." Dalam hatiku berucap. Batinku sedikit tak tenang. Namun, olah nafas selalu bisa jadi alternatif untuk meredam gejolak batin.

Sedikit miris, dengan ucapannya. Ingin sekali melempar bogem mentah pada bibirnya. Tapi, kenyataannya memang pelaku seni identik buruk dimata para masyarakat. Ya, walaupun pelaku seni saat ini belum pernah ada yang menjadi koruptor dan sejenisnya.

Kelas, terasa membosankan. Bukan karena materinya atau dosen pengampunya. Tapi, memang orang-orang didalamnya tidak benar-benar hidup. Meski suasana diskusi dibangun untuk lebih hidup. Tapi jiwa manusianya tak hidup. Mungkin kebiasaan-kebiasaan culturiahnya masih terbawa dan susah dilepas. Topeng-topeng yang digunakan masih terlalu kolot dan kaku. Terlalu mudah ditebak untuk model penipu awam.

"Sasongko, kamu ngelamun apa ?". Tiba-tiba dosen pengampu meledakan isi kepalaku. "Jan... Iya bu ? Saya, sasongko semester 12" Hampir keluar kata-kata mutiara dari bibirku. "Iya, ibu sudah tau. Yang ibu belum tau, kamu ngelamun apa ?" Tanyanya sekali lagi dengan nada sedikit serius. "Ah, ibu kepo nih. Yang penting saya tidak mengganggu pelajaran ibu kan"

"Keluar kamu. Tahun depan mengulang kembali mata kuliah saya!!!" Terbelalak ia menghardikku. Seperti malin kundang dikutuk ibunya menjadi tidak lulus dimata kuliah ini. Memang terkadang niat tak selamanya sejalan lurus dengan perilaku yang kita tunjukan. Sebetulnya hanya ingin mencairkan suasana yang tegang. Namun, terlanjur menyulut api dan membakar seluruh harapan semester ini.
"Siaal, tapi tak masalah. Menyesal hanyalah segala kesia-siaan yang tak berguna" cetusku sambil berlalu.
...
Gazebo sanggar sedikit ayep, anak-anak sepertinya masih sibuk dikelas masing-masing. Membaur dengan robotic yang berwujud manusia. Atau jangan-jangan ada beberapa dari kami juga manusia robot. Karena, tak jarang juga terlontar istilah membonekakan aktor atau memanusiakan manusia.

"Ko, tumben cepet kesini ? Diusir dari kelas lagi ? Atau terlambat masuk kelas ? Tapi terlambat sepertinya tidak mungkin". Pak sutradara tiba-tiba menyanggah lamunanku dari balik bilik gazebo.

"Yah, seperti biasa pak. Hidup serba penolakan ya begini ini" ia hanya tersenyum menanggapi kalimatku. Sebetulnya sutradara ini punya nama. Tapi, kebiasaan dipanggil sutradara aku pun lupa nama aslinya. Umurnya satu semester dibawahku.

"Ngopi dulu sini, ada dewi juga" pak sut menawariku kopi buatan si dewi. Yang aku sendiri pun tak memungkiri kenikmatan dari racikannya. Dan juga casablankanya yang selalu terselip dibalik aroma americanonya. Tapi, kadang aku merasa bilik ini seperti kafe kopi mahal dari pada dapur tempat anak-anak konsumsi berkegiatan sebelum disulap dewi.

Memang anak ini cantik, tapi ada sesuatu yang membuatku lupa dengan kecantikannya. Kopinya, yang kata orang racikan dari istriable. Tapi mana mungkin seorang perempuan cantik bahkan buruk rupa dan bodoh sekalipun mau dengan lelaki macam Sasongko ini. Benak ku mengutuk.

Wajah manisnya, dan kopi hitam digelas kaca memantulkan senyum dari bibirnya. Disela keluguannya ada tatapan nakal yang menggoda.
"Ko, monggo diminum" kata paksut memecah hening. "Bahari bagaimana ? Sudah siap menuju gladi ?" Tanyanya lagi ditengah sruputanku.
"Oh iya, aku rasa olah-olah tadi sudah cukup memadai kebutuhannya" ujarku menjelaskan.

Dewi hanya tersenyum memandangiku yang tak lepas dari bibir gelas kopi buatannya. "Ko, bantuin gua ambil bahan konsumsi dirumah yuk" dari balik keheningan bibirnya yang merekah. Terucap beberapa pinta untuk membantunya.
Dengan anggukan, aku langsung mendominasi kemana arah langkah menuju. Rumah dewi disimpang lima.

"Dirumah ada siapa dee ?" Basiku memecah hening sepanjang jalan. Rumahnya tak jauh dari tempat kami biasa latihan. Dan langkah kecil dari kaki-kaki kami saling bersautan ditanah.
"Ga ada siapa-siapa, Ko. Paling lala doang sendirian baru pulang sekolah jam segini" tukasnya seperti ingin sedikit curhat.
"Lalu, orang tua dimana ?" Pancingku sedikit terlalu ambisius. "Orang tua, nah nyokap bokap gua dijakarta. Gua sama lala tinggal dirumah sendiri biar mandiri. Mereka sibuk kerja tanpa merhatiin gua. Dan itu kenapa, gua walaupun ga bisa bermain peran tapi lebih milih gabung sama grup teater karena gua ngerasa disini keluarga yang sebenarnya. Dan gua berusaha bisa berguna buat kita" hampir menetes air matanya yang secara spontan diseka tangan kananku.
...

Gazebo kini dipenuhi tim produksi dan aktor. Aku masih sibuk dibilik membantu dewi menyiapkan konsumsi. "Udah, Ko. Itu biar disitu aja. Makasih ya" dewi mencoba menghentikanku dan mengambil alih bagian konsumsi sendirian.
"Dee, jangan khawatir. Kamu sudah bermain peran dengan sangat baik" ucapku sambil berlalu sebelum keningnya ku kecup hingga pipinya memerah.

Masing-masing bidang produksi memflorkan segala baik buruk yang dilalui setelah beberapa bulan jalan proses. Dan seperti biasa, meskipun banyak halangan dan rintangan. Mulai dari proses yang kurang serius hingga perdebatan masalah spele dengan satpam. Semuanya selalu berjalan lancar dan tinggal menuju panggung pementasan.

Gladi pun berlangsung dengan seksama. Jalannya pementasan tak terlalu kacau. Evaluasi demi evaluasi memenuhi ruang tempat kami berdialog. Waktu tak terasa begitu cepat. Dan kini, gelap merambat melalui bayangan pohon beringin dibelakang. "Ko, duluan ya" ujar dewi yang tak biasanya berpamitan padaku. Sambil tersenyum aku mengangguk.

"Gak dianterin, Ko ?" Tiba-tiba suara pak sut menyambut diantara anggukanku dan senyuman dewi. "Udah gede masa iya dianterin" godaku pada pak sut.
...

BAB 3

Pagi ini lumayan cerah. Matahari bersinar dibalik bukit suasana fajar begitu asik. Tanpa enggan, aku langsung menuju bilik digazebo tempat biasa kami latihan. "Ko, ngapain ? Sini biar gua aja" dewi langsung mengambil gelas ditanganku.
Biar kata aku ini lelaki. Kalau urusan cari masalah aku mending langsung mundur bila berhadapan dengan perempuan.

"Ini, Ko. Btw, tumben pagi begini sudah disini ?" Tanya dewi yang mencoba masuk ke dunia imajinasiku membaca naskah.
"Cerah, aroma mentari memancarkan hangatnya pada kita. Disambut aroma kopimu, dan tatapan hangat dari matamu membuat ku sedikit melupa. Tentang siapa aku, kau yang menjadi kita. Ndak apa-apa dee. Aku juga kaget liat kamu pagi-pagi sudah kemari. Sekalian persiapan buat entar malem" kataku mencoba menyamarkan maksud dari penggalan sajak yang terbersit dibenaku yang terucap.

Dewi sepertinya tersipu malu.
"Bagus, kata-katamu buat aku jadi putri pagi ini Ko."
Sambil kembali menyelam dalam naskah. Ku seruput kopi manis buatannya.
"Enak ya ? Kopi buatanku."
Ucapnya memelan.
"Coba saja," timpalku.
"Menurutmu gimana, Ko ?"
"Soal rasa dee. Bisa saja apa yang kita alami atau kopi yang kita icipi. Bisa saja rasanya berbeda. Mungkin soal selera atau soal kebiasaan."
Ia langsung menyeruput bibir gelas. Tepat dimana bekas bbirku menempel.
"Rasanya hangat. Ada rasa tembakaunya jadi gak gitu enak, Ko. Eh, ada wangi parfumku."
Katanya tersipu malu.
"Iya, kamu minumnya disitu. Coba disisi sebelah sini." Menunjuk bibir gelas yang belum berbekas. "Dan lagi pula, wangi parfummu menambah ciri khas dari kopimu yang ku suka."

Matanya tajam menatapku. Mencoba melumat habis bentuk wajahku.
"Ko, kenapa masih jomblo ?" Tiba-tiba kalimat itu terlontar dari bibirnya.
"Jomblo ? Lah, mungkin nunggu elu dapet pacar duluan kayaknya dee." Candaku.

"Serius! Ko. Kenapa ?" Tiba-tiba perbincangan kami mulai masuk kedalam privasi semata.
"Entahlah, jomblo atau enggak, bukan masalah dee." Kemudian ia mengangguk.

"Gue sayang sama elu, orang-orang disini dan tempat ini. Meskipun elu, atau orang-orang disini bahkan orang-orang kampus gak sayang sama gue. Gue tetep sayang sama kalian."

"Cie, pagi-pagi sudah disini rupanya kalian."
Pak sut tiba-tiba menyela pembicaraan kami.

"Kebetulan ntar malem kan udah pentas. Masa iya, kita ga kesini pagi-pagi buat siap-siap."
Dewi mengelak seperti kepergok mesum sama mantannya. Tapi entah lah, sepertinya si dewi ini orangnya bukan type perempuan yang mau-mau aja diajak begituan.
...

"Pak sut, ini kita gladi lagi gak ?" Tanya bahari seusai mempersiapkan properti dan segala bahan untuk setting panggung.
"Ga perlu, Har. Abis dzuhur langsung di angkat ke gedung pertunjukan aja." Perintahnya.

"Ko, bantuinlah sini." Pintanya.
"Iya, belum juga dzuhuran." Sambutku

"Sasongko, ga perlu ikut. Kamu aja sama yang lainnya." Pak sut menyela.
"Kamu disini aja, Ko. Ada yang mau gabung dari anak tari." Sambutnya.

"Wah, kau jangan gila ah. Ntar malem pentasnya, masa iya ada yang mau gabung siang ini."
"Ya kan gak apa-apa. Lagian yang mentas-mentas, yang nonton-nonton."

Ditengah kesibukan para tim pro yang gotong-gotong properti dan kostum. Aku duduk bersama dewi sembari menanti anak tari yang mau bergabung.
"Dee, setelah ini kamu main monolog ya ? Proses tiga bulan. Aku yang menyutradarai. Aku minta tolong banget nih." Aku Mencoba merayu hasratnya didunia peran.

"Gimana ya? Belum siap gue, Ko. Tapi gue fikir-fikir dulu deh."
"Yang penting lu mikirnya ga kelamaan. Gue udah bosen nungguin jawaban, dee."
"Tau deh, yang sering nunggu jawaban cuma buat ditolak doang. Hahaha..." Candanya meledakan tawa segazebo.

"Permisi, pak sutradaranya ada ?" Ditengah gazebo yang sedang meledak. Tiba-tiba seorang perempuan datang pada kami.

Tingginya sekitar 170cm dan perawakan ideal untuk seorang perempuan. Dari lekuk tubuhnya dan gaya bicaranya. Sepertinya, dia si anak tari.
"Masih bantuin tim pro usung-usung properti. Pean arek tari iku, mbak?" Dewi langsung mendominasi. Fikirku, si dewi ini ga bisa bahasa jawa sama sekali. Dan ternyata, wajahnya kuto tapi medoknya ndeso banget kalo udah keluar dialeg jawanya.
"Nggih, kulo Yanti. Bekas anak tari saya mbak. Hehe" jawabnya ramah.

Yanti, nama yang bagus untuk seorang perempuan. Rambut panjangnya yang ia biarkan tergurai nampak begitu indah. Kulitnya sawo matang begitu manis. Matanya yang bulat sedikit menyipit. Dengan hidung pesek dan bibir yang tipis dan agak tebal dibagian bawah. Ia nampak begitu pas untuk selera seorang lelaki dari kalangan bangsawan atau keraton keturunan raja.
"Gue, Dewi. Dan ini, Ko kenalan dulu gih." Dewi melempar percakapan ke aku.
"Sasongko, mbak. Yanti, nama yang pas buat mbak. Lengkapnya siap mbak ?"
"Kukuh Wijayanti, mas." Seraya hatiku berdegup setelah mendengar nama lengkap dari bibirnya yang indah.
"Monggo, duduk dulu." Dewi mempersilahkan.
"Tadi katanya bekas anak tari ya ? Memangnya kau, keluar atau bagaimana ?" Dengan sedikit penasaran dengan latar belakangnya aku bertanya.
"Aku masuk tari, karena kemauan mbah. Aku dari jogja. Sumpek sama tata krama disana yang mengharuskanku begini dan begitu. Akhirnya merantau kemari. Aslinya maunya ke luar negeri. Tapi, masih cinta indonesia aku mas. Aku ngerasa udah cukup didunia tari. Jadi ingin mencoba didunia seni peran."
"Pasti langsung nembak jadi aktor ?" Terkaku melirik dalam matanya.
"Kok tau mas ? Hehe"
"Keliatan kok. Mungkin sebelum masuk dunia peran. Kau harus ku ospek dulu. Ini, dewi. Coba buatkan koreografi buat mentas monolognya dia." Tukasku melemparkan telunjuk pada dewi.
Ia terpukau dan mengelak. "Kan belum pasti aku mau main, Ko."
.
.
Continue ---
Share:

3 komentar:

Google+ Badge

Diberdayakan oleh Blogger.